7 hal mematikan yang membuat IT sekuriti Indonesia mengalami kemunduran

Jurnal ini dpublis pada  13 january tahun 2009 dibaca 3546 kali ditulis oleh mas y3dips founder echo.or.id , dan pernah juga kami (acehline- red) publish kembali di web kami dengan sedikit tambahan, namun sayang karena sesuatu insiden tidak ada arsip sama sekali, semoga aja bisa menjadi masukan buat saya terutama dan anda. Berikut point – point nya :

1. Tidak adanya motivasi asli

Lucunya apabila diperhatikan secara seksama kemunculan dan motivasi mereka persis bunglon, serba cepat berubah, hari ini ingin di sebut ini, besok mereka mengaku itu. Hal ini terjadi dikarenakan tidak adanya motivasi ataupun keinginan yang mendasari pembelajaran mereka. Kondisi seperti ini secara global sudah sering kita kenal dengan sebutan “krisis identitas”, yang wajar di temui saat awal-awal memulai sesuatu (kita semua mengalami itu), tetapi permasalahan muncul karena sampai bertahun-tahun mereka tetaplah mengalami krisis identitas, sampai akhirnya “menyampah” dimana-mana 🙂

2. Rakus Publisitas dan Money Oriented

Seperti kalau kita kutip dari tulisan crazy consuelo dalam sebuah artikel bertajuk new hacking manifesto dalam salah satu issue yang di rilis phrack because I do this out of love — you do it for money.

Umumnya para pendatang baru sangat amat rakus dengan ketenaran dan uang, di pikiran mereka adalah bagaimana secepatnya menjadi terkenal dan mendapat uang darinya, terserah apakah dengan publikasi sembarangan ke berbagai media massa dan tentunya bagi media massa akan sangat amat menguntungkan, tidak perduli dengan membodohi orang lain dibumbui janji-janji palsu dan pemujian diri sendiri yang sangat amat berlebihan, atau dengan melakukan “vandals” ke berbagai situs tanpa alasan yang jelas… Hey, itu berbeda dengan “cyber war”.

3. Skill yang minim plus kemalasan yang besar

Sebagaimana pendatang baru, kemampuan mereka sangatlah minim. “Lack of skill” adalah hal yang lumrah bagi para pemula ditambah luasnya bidang ilmu komputer yang ada kala ini, tetapi yang menjadi permasalahan adalah kemalasan. Tidak adanya motivasi dan kerakusan publisitas membutakan mereka untuk melompat jauh keatas tanpa mau melalui pijakan-pijakan tangga terbawah yang seharusnya merupakan pondasi terpenting.

Sudah dari 2004 gw menulis artikel “F.A.Q for NEWBIES Version 1.0” yang merupakan rangkuman dari berbagai sumber, dan gw harap sedikit banyak bisa menjadi acuan bagi yang mau memulai walau sangat jauh dari sempurna. Tetapi anehnya berkali-kali email yang mampir baik ke mailbox pribadi, pertanyaan di milis juga di hampiri dengan pertanyaan “bagaimana kami memulainya”.

4. NATO (No Action Talk Only)

Satu hal yang pasti untuk membuktikan ini, tanyakan pada mereka 1 hal yang hanya membutuhkan jawaban pasti/detil/teknis/poc, maka pastinya mereka akan membuat anda pusing tujuh keliling dengan cerita-cerita tidak pasti dan hampir pasti tidak akan menjawab pertanyaan anda.

Minimnya kemampuan teknis dan konsep dasar membuat mereka kesulitan menjawab/memecahkan berbagai permasalahan, umumnya mereka akan senang mengalihkan atau melemparkan pertanyaan tersebut, dan sedihnya lagi sangat sulit bagi mereka untuk mengakui ketidaktahuan mereka dan mulai belajar, belajar dan belajar.

5. Generasi Instant

Seperti halnya mie instan yang bisa disajikan dengan cepat dan sekejap mata, serta tanggapan public yang sangat memanjakan dengan berbagai tawaran kursus instan, buku-buku yang menyajikan janji-janji instan, melengkapi generasi instan ini, mereka tidak mau perduli dengan proses, mereka hanya ingin secara cepat berada di atas, dan layaknya semua yang instant, apapun itu, maka tidak akan bertahan lama.

6. Terputusnya link

Para pendatang baru umumnya tidak menghargai para pendahulunya, susah sekali memberikan “credit” kepada orang-orang yang telah berjasa bagi mereka, sebagai contoh credit untuk referensi, yang umumnya di klaim sebagai milik pribadi apabila di publikasikan ulang oleh mereka. sifat inilah yang membuat mereka tidak berkembang, karena secara pasti akan di jauhi para pendahulu yang sejatinya membimbing mereka, bahkan kemungkinan terburuk akan menimbulkan konflik, baik internal bahkan meluas.

7. Terlalu Berapi-api dan Sangat amat mudah Putus Asa

Layaknya kata pepatah “air beriak tanda tak dalam” dan “tong kosong nyaring bunyinya” memang terbukti bahwa banyak para pendatang baru yang terkadang berapi-api dalam mengemukakan konsep (dan sedihnya lagi terkadang bukan temuannya) yang apabila konsep tersebut di koreksi (misal: bertentangan dengan dasar keilmuan), akan membuat mereka marah bahkan terkadang berputus asa.

Nah itu tujuh pointnya, point tersebut tidak ada pengubahan dari aslinya semoga ada manfaatnya

Sumber : http://e-rdc.org/v1/news.php?readmore=128

Iklan

2 thoughts on “7 hal mematikan yang membuat IT sekuriti Indonesia mengalami kemunduran

  1. Ping-balik: 7 Hal Mematikan yang Membuat IT Sekuriti Indonesia Mengalami Kemunduran | Exploits

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s