Tentang Cahaya

Tentang cahayaTak seperti yang ku harapkan, karena tak kumiliki lagi seutas penutup aurat yang pantas ku kenakan esok hari, lelah rasa ku berdebat kata dengan si jantung hati masalah pakai memakai agar terlihat sebagai manusia. Langkah sempat tersendat ketika pendapat bersitegang adu urat mengadu hujah. Terpaksa dengan asa ku mengalah, acap ku ceritakan kepadamu seperti guru kajian agama mengabarkan kepadaku semasa kanak tentang hitam dan putih ulah polah tabiat manusia yang tak bersyukur, terseyumlah duhai pendampingku, bukan kah rahmatillah telah kita reguk semalam hingga pulas dan bangun kembali.

Aku letih dan lelah jika suara meninggi tiada seyum diwajah, bukan kah pernah ku ceritakan pepatah saudagar dari negeri cina “Jika tak mampu tersenyum maka jangan pernah membuka toko”. Dan seperti hari hari kemarin kita menunaikan pekerjaan yang sama, sama menatap sama mengatur, sama menghibur, sama terbentur akhirnya mundur. riak gelombang pasang menghadang menghalang tanpa henti, kita bernah pernah bertukar peran bersitegang bergantian di waktu yang sama di penyebutan hari yang berbeda, dan ku pun pulang.

Pintu pertama telah terbuka, selanjutnya tak berpintu ruangan, menjadi saksi tentang cerita – cerita kutaraja, tergerak tangan membuka pintu lemari, namun sekelebat bayang muncul, sebuah kita jatuh dan terbuka tepat nya di An nur Ayat 21.

Ketakutanku meliputi jiwa dan raga ah apa yang harus kulakukan, apa diri ini terlalu kotor, baiklah mungkin wudhu obat penawar peristiwa ini.Matahari masih berputar seperti biasa sama seperti hari hari kemarin entah yang berapa kali, namun hari ini tak terlihat garang.

Ayat 21

Ini bukan panutan titah tatih petuah pasal per pasal
bukan hukum undang melihat mevonis, dan jatuhlah nasih jiwa manusia
Bagi mereka yang bersuara menyuarakan nurani kami, kata nya ;
Dari rakyat untuk rakyat, ah dasar bacot …..

Titah dan tatih yang kau agungkan laksana nyawa di raga
telah menceraiberaikan anak – anak kami
menuntas detak nadi kami, menginjak injak harkat martabat kami
menjajah, meremukkan tulang belulang hingga nisan tak berpusaran tanpa nama

Kita punya kitab yang sama, pernahkah kau singgahi matamu lenganmu
nafasmu, kepada ayat 21 ?
Bukan … bukan itu …

Aku tak mengerti perjanjian lama
Tak ku pahami juga perjanjian baru
Yang ku tahu kabar dari ababil mengabarkan
Di temukan manuskrip sejati dari tangan Tuanku yang di berikan kepada
Nabiullah Isa Almasih.
Istanbul …. Cerita buram jatuhnya kejayaan islam ….

Wahai engkau yang memiliki derajat di muliakan oleh ratusan jiwa manusia
baca kembali ayat 21 ….

catatan: alqur -an jatuh tiba2 dari atas lemari, tergeletak di atas lantai, dan terbuka ada surat An – Nur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s