Aku adalah petani dan nenekku master nya

Aku adalah petani

Ketika udara pertama kuhirup betapa nikmat nya wangi dedaunan menelusuri setiap rongga dalam ragaku, langkah goyah tertatih disambut uluran tangan yang terbiasa dengan tanah, menggenggam menghancurkan bongkahan nya menjadi serpihan – sepihat tanah basah. Jiwa ku tenang ragaku tentram ketika bacaan selawat menghantarkan lelap ku ke negeri impian, aku pun berlari saat langkah tak lagi goyah ketika malam tiba dia menghentikan lariku dengan duduk mengeja alif ba ta sa saat bosan bersama kantuk datang dia berhikayat tentang malem diwa, bercerita tentang jepang yang menjajah, tentang riwayat rasulullah. Pagi pun datang waktunya bermain berlari diatas pematangan petakan tanah – tanah yang di sebut sawah, bermandikan lumpur, mengejar bangau yang mencari cacing makan. ah betapa menyenangkan masa itu.

Masa berganti waktu berlalu tenaga telah mampu menggangkat kampak membelah kayu menjadi potongan – potongan kecil untuk dibakar, dia mengajarkanku fungsi cangkul dari membersihkan rumput liar hingga cara menanam pepohonan untuk kelangsungan hidup agar kelak tak menjadi benalu dalam masyarakat, terik mentari garang memanggang dia memberikan ku sebuah tudung terbuat dari daun nipah agar tak berlari dari panas nya raja hari. Hayalan tentang memetik hasil melambungkan angan melampui apa yang bisa kulakukan hingga senja datang, dia berujar “cukup sebentar lagi magrib, cepat mandi dan sembahyang”

Anggrek punya nenek yang pernah kusirami

Aku bangga sebagai laki – laki ketika dia memberikan ku sepetak sawah yang hasilnya menghantarkan aku ke Computer Management Of Scient di Kutaraja Banda Aceh, aku juga pernah kesal saat kebiasaan pada perempuan harus kulakukan karena pintanya, ah menyirami bunga ..

Kugenggam bongkahan tanah yang bercampur pasir seperti halnya dia yang mengajarkan ku agar tanah gembur, munajat ku haturkan kepada penguasa langit dan bumi agar hasil berguna untuk diriku dan yang lain, pintaku di dengar, aku bersuka cita di sepetak tanah di pinggir sungai.

Waktu memaksaku untuk pergi, hingga mendamparkanku ke tanah jawa, tak ada sejengkal tanah pun yang yang ku miliki, aku masih ingat pesan sebelum ku pergi “Sembahyang jangan pernah ditinggalkan”

Hei tunggulah beberapa tahun lagi kelak aku punya tanahku sendiri disini, tanah jawa ini, ya akan kugemburkan tanahku akan kutanam singkong, pepaya, jagung, timun, bayam, cabe, kangkung, kenapa pulau jawa ? karena aku adalah petani

Note : diatas adalah pengalaman pribadi cerita diri, asli tidak mengada – ngada

Iklan

2 thoughts on “Aku adalah petani dan nenekku master nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s