Cerita Kala mengenal Dunia Bagain 1 (Rencong Milik Ayahku)

langsa

Mesjid Raya Kebanggan Kota Langsa

Allah tidak mentakdirkanku lahir di langsa namun sudah menentukan langsa adalah tempat ku mengenal, belajar, bertarung hidup dengan segala keterbatasan diri, memaksimalkan kemampuan menutupi kekurangan menjadi lebih baik.

Aku sangat mencintai musik, entah gen siapa yang ku warisi ayahku kah atau ibuku, ayahku pintar dan sangat lihai dalam hal syair bahasa aceh tanpa butuh waktu lama sebait pantun mudah saja dia ucapkan, gampang sekali dia menuliskan nya, sedangkan aku butuh waktu lama untuk membuat sebuah pantun setidaknya begitu sepuluh tahun yang lalu, aku lebih mudah menuliskan puisi dalam bahasa indonesia :mrgreen: bagaimana dengan sekarang ? ya sama aja tetap susah hahahahahahaha :mrgreen:. Mungkin akan menjadi pertanyaan kenapa tetap tidak bisa ? apakah terlalu bodohnya diri atau malas berusahanya diriku? tidak … bukan itu yang menjadi masalah akan tetapi pantun atau syair yang dibuat dalam bahasa aceh yang belum keketahui sebelum nya contoh seperti dibawah

PANTUN

Aneuk Leuk Kutru di cong bak jantoe
Aneuk Manyak moe lam ayon ija
Menyoe na salah geutanyoe dua
peu meuah jinoe bek lee na desya

Aku sangat kesulitan dalam kosa kata bahasa aceh, karena masa pendidikan dasar SD dan SMP memang tidak diajarkan sama sekali, yang ku ingat semasa belum masuk ke dunia pendidikan aku masih di jakarta (cie .. cie … jakarte..:mrgreen: ) Masih segar dalam ingatanku bagaimana meluncurkan sebutir batu kecil dari tanganku ke arah rimbunan pohon jambu mengenai salah satu teman yang tidak begitu ku kenal, pasal perkara berawal dari penolakan permintaan ku dan akibat dari kepelitan nya.

Begini Cerita nya ….

Hari yang cerah, adik -adik ku sedang tidur, emak keluar, entah kemana aku tak tahu … aku bosan setiap hari harus tidur, mumpung emak lagi keluar :mrgreen: inilah kesempatan untuk bermain – main sepuas hati, langkah kecilku menghantarkan ke sebuah pohon jambu yang sangat rimbun daun begitu juga buah nya, terbit air liurku memandang buah jambu yang ranum – ranum dari kejauhan, perlahan ku dekati, begitu jarak pohon dengan tempatku berdiri sekitar 1 meter lebih dahan dan ranting bergoyang, ternyata ada orang.
“Hey bagi dong jambunya ? teriak ku, hening tak ada jawaban, ku ulangi lagi untuk yang kedua kalinya masih tetap bungkam tanpa suara, dengan sisa kesabaran ku ulangi permintaan yang sama namun dia tidak menggubris ku, kesal habis kesabaranku, sepengetahuanku pohon jambu itu bukan milik nya, tak ada pilihan lain aku berbalik pulang dengan menyimpan rasa dongkol dihati namun baru dua langkah mataku tertuju pada bebatuan kecil di pinggir jalan ku mendapatkan ide untuk mengobati rasa dongkol, ku punguti beberapa batu kira – kira sebesar dua jempol orang dewasa, tanpa menunggu lama langsung ku lempar ke arah si teman yang berada dibalik rimbunnya daun jambu, tak ada suara mengaduh, berarti lemparan perdana ku nihil tak mengenai sasaran pikirku, ku ulangi lagi, ke dua ketiga akhirnya aku bosan, hasilnya tetap sama. Kutinggalkan pohon jambu tersebut dengan kedongkolan di hati, ku langkahkan kaki kesana – kesini tak tentu tujuan, tak ada yang menarik menghibur hati. Benar – benar hari yang tidak menyenangkan pikirku, tak ada pilihan lain selain pulang dengan suasana hati yang kurang senang :mrgreen:

Sesampainya dirumah, tepat di depan pintu masuk, dari kejauhan  terdengar suara riuh rendah sekelompok anak – anak menyebut namaku dengan geram, sadar kalau bahaya sedang mengintai, dengan jumlah yang tak sebanding, secepat kilat masuk kedalam ku kunci pintu rapat – rapat, aku ketakutan, si teman yang ku lempar dengan batu tadi ternyata tidak senang dengan unjuk rasa ku.  Dia

Rencong Aceh

Rencong Aceh

mengadu dan mengajak teman – teman yang lain untuk menghakimi ku, jumlah yang tidak ku ketahu dengan pasti namun aku yakin mereka lebih dari 5 orang. Aku salah kira lemparan yang ku anggap tak mengenai sasaran ternyata salah, tapi yang membuat ku heran mengapa dia diam saja, kalau tidak mana mungkin mereka ramai – ramai menyatroniku.

Mereka menggedor- gedor pintu rumah disertai dengan suara – suara ejekan, melepari dinding rumah, aku kalut bingung, ketakutan, tak terpikirkan kejadian nya bakal seperti ini, harus bagaimana menghentikan aksi mereka?

Aku ingat Bapak dan Emak, ku ingin mereka segera ada disini. Aku yakin jika orang tuaku ada mereka tak kan seberani ini. Harapan tinggal harapan orang tua tak juga kunjung datang.

Gemetar seluruh tubuh, aku mengintari seluruh ruangan di dalam rumah sambil berfikir dengan otak kanak – kanak masih dangkal, pengintaran akhir ke kamar tidur ayah, ku temukan sebuah tas berwarna coklat muda yang seteangah terbuka, kelima jari ku bagai bersinergi dengan otak laksana garpu sampah mengaruk -garuk mencari sesuatu yang aku sendiri tak tau apa yang sebenarnya ku cari :mrgreen: akhir nya ku temukan sebilah pisau kecil yang gagang nya melengkung bengkok.

Langsung ku genggam aku bergegas ke jendela yang di sekat dengan kawat nyamuk ku acungkan tinggi – tinggi, sebagai balasan ku bahwa aku tidak takut :mr green: (sebernanya sih jiper ngeliat banyak nya pasukan si temen) ajaib perlahan tak lama kemudia suara – suara itu reda dan hilang. 20 tahun kemudian baru ku ketahui yang ku genggam di kala itu adalah rencong.
Subhanallallah ternyata Allah masih memperhatikan hamba kecilnya nya yang nakal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s