Manusia Itu Sejati Budak Allah

Dalam hidup kita sering menemui hal – hal sederhana yang membuat hidup lebih berat, tergantung sisi mana kita menyikapinya dan bagaimana kita menerima apakah itu sebuah musibah atau ujian agar mensyukuri nikmat – nikmat yang secuil menjadikan kita makhluk tuhan yang tau diri.

Setiap manusia tak lepas dari problem hidup dengan ragam kesulitan yang berbeda pula, dan tak jarang menemukan hambatan – hambatan berat dalam meraih keinginan meskipun telah berusaha dengan maksimal tak jua menemukan solusi. Pantaskah kita meratapi diri, menyalahkan keadaan atau kondisi ketidak mampuan orang lain ?

Bersyukur” tidak cukup sekadar mengucap “Alhamdulillah”

Makna dari “Syukur” mengandung dua dimensi yaitu pertama menerima apa yang ada dan kedua mengembangkan potensi yang ada. Kita bisa bersyukur dengan memikirkan hal-hal yang “kita miliki”, bukan yang ”belum kita miliki”. Tapi ini baru setengah bersyukur. Dimensi lainnya adalah mengksplorasi apa yang kita kita miliki.

Misal Anda dihadiahi HP yang canggih dan mahal, tapi hanya untuk sms dan telepon saja, tentu akan membuat sedih pemberi HP karena pemberiannya tidak dimanfaatkan secara optimal.

Tuhan sudah memberi kita hal-hal yang luar biasa, tapi apakah kita sudah menggunakannya dengan optimal?
(Ref: The 7 Laws of Happiness by Arvan Pradiansyah)by. http://dc435.com

Mungkin letak keberhasilan kita mengkondisikan pada salah satu individu, namun pernahkah kita diam sejenak untuk merenung, apa yang kita harapkan dan idam – idamkan pantas untuk kita, dan layak untuk kita raih ?

Semua “orang” mampu mengkonsepkan keberhasilan melalui pemikiran dan kemudian di tuangkan kedalam sehelasi kertas dan tak jarang pula di diskusikan dengan briliant, namun keberhasilan jauh api dari panggang. Memang dalam Al – Qura’n Allah menitahkan kepada kita untuk meminta dan niscaya dia akan menjawabnya. Proses nya tak semudah itu, yang disebutkan adalah memintanya kepadanya itu sangat pantas, sedangkan pada firman yang lain manusia tak tak ubahnya budak Allah, maka apakah pantas meminta lebih ? Udara, air, api, tanah yang kita miliki adalah pemberian yang sangat luar biasa, sudahkah setimpal kah kita syukuri ?

Allah punya skenario yang tak akan pernah bisa manusia ramal, yang terbaik tetaplah dia berikan pada waktu yang tepat, akan ada ujian kesabaran jika keberhasilan itu diberikan, pun jika tak berhasil bukan akhir dari usaha, mungkin jalan nya bukan disitu namun pada jalan yang lain, jikalaupun kegagalan kita rasakan, mungkin keberhasilan diberikan kepada orang – orang terdekat atau pihak – pihak yang di anggap Allah sesuai melalui kita.

Allah sudah memutuskan takdir manusia, sebelum manusia itu hadir ke muka bumi, manusia adalah mahakarya terbaik, dan yang terbaik harus di uji, sudah pasti dengan hadiah yang terbaik yaitu surga, sebuah kenimatan abadi yang telah di ceritakan dalam Al-Qur’an.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s