Hari Kesaktian Pancasila yang terlupa

Ketika menonton acara berita TV sekitar jam 10 malam,Saya baru sadar kalau hari ini (saat tulisan ini saya ketik) 1 oktober merupakan “hari kesaktian pancasila“.

Tergerak niat, terpancing hasrat untuk menulis tentang “Kesaktian  Pancasila“, namun buru – buru saya mengurungkan niat, saya memutuskan untuk mencari terlebih dahulu melalui search egine paling ampuh sejagad maya dengan menggunakan kata kunci pencarian “Memaknai Kesaktian pancasila”.

Ada beberapa link menarik untuk dibaca seperti yang di tulis Ahmed  atau cerita galau tentang kondisi negeri ini ditulis oleh Dewi Agustin  dan  Ellis Veronika Sitinjak. Sebenarnya masih banyak tulisan seperti Dewi atau Ellis, yang mempertanyakan Mengapa ?

Terlepas dari sebab akibat permasalahan – permasalah yang terjadi, tak bisa kita pungkiri, inilah kenyataan nya, negeri kita tercinta ini penuh dengan masalah yang sangat kompleks mulai dari masalah korupsi yang seakan menjadi tradisi, penegakan hukum yang mencla – mencle bagai waria, sistem pendidikan semraut sangat pas dengan istilah ada uang ada kualitas, masalah ekonomi kacau balau persis lirik lagu Rhoma Irama Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Transportasi tumpang tindih, dan yang sangat mengerikan sekaligus memprihatinkan adalah transportasi menggunakan jalur laut, menurut informasi dan investigasi dari kulit tinta Media Indonesia, bahwa kebanyakan kapal – kapal yang masih berlayar tersebut telah berusia sangat lanjut yaitu 70 tahun, dan diantaranya  juga ada sisa peninggalan Dunia II.

image :wikimedia.org

Kenapa negeri ini begitu banyak di timpa masalah, didera musibah ? kenapa banyak yang lupa, banyak yang tak merasa punya negeri, hingga menjajah sesama anak bangsa ? apakah salah pemimpin ? apakah salah hukum ? atau salah bapak pendiri negeri ? atau salah para pendahulu yang tidak tepat meletakkan landasan ideal konsep sebuah negeri yang makmur, adil dan bijaksana. Atau memang Yang Maha kuasa sedang menguji.

Mungkin jalan yang terbaik adalah kita harus kembali lagi ke awal, memulai lagi dari 0 (nol), menyelesaikan apa yang menjadi tuntutan vital penduduk negeri seperti perbaikan ekonomi, pendidikan, menyelaraskan kembali kemesraan dengan pencipta, saling mengingatkan satu sama lain dengan kearifan budaya lokal tentang hal – hal manusiawi yang telah terlupakan, narasi takkan cukup menyelesaikan, namun langkah nyata dalam realitas kehidupan harus benar – benar dilakukan bukan hanya sebatas retorika pemanis acara layaknya ceramah panjang lebar dan berkoar – koar tentang penistaan keyakinan di negeri adikuasa.

“Lusuhnya bendera dihalaman rumah kita, bukan alasan untuk kita tinggalkan” lagu iwan fals.

Dan aku pun  sempat terlupa, karena telah terlalu lama, setiap tiap tanggal dan bulan yang sama datanga, ku merasakan semua nya hambar, tanpa makna, seakan menjadi pendapat bersama “bukan hal yang terlalu istimewa” karena disisi lain dalam kenyataan mereka yang dititip mewakili aspirasi kita, sangat tamak dengan harta, menutup mata atas kepentingan – kepentingan mendasar rakyat kecil seperti kita. Kita muak, malu, marah kesal dengan ulah mereka yang semakin lupa diri.

Kita tak mampu berbuat apa – apa selain berdoa …. ..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s