Hikayat malam

Langit kelam hitam. Tak ada kerlip taburan bintang
Detak berjalan lamban. Sama seperti kemarin persis sebelum – sebelumnya. Jam 3 pagi dini  hari angin menusuk mencucuk sumsum dan tulang. Aku memasang jaket dan beranjak meninggalkan rumah.

Di mulut gang diantara temaram penerang lampu jalan beberapa remaja tanggung sedang berkumpul, dua perempuan satu lelaki tak jelas berbincang dalam bisik. Seharusnya mereka ada di rumah menikmati kehangatan keluarga, bukan di pinggir jalanan, atau mungkin mereka bagian dari penghias malam. Entahlah pemandangan seperti itu sering kali kulihat.

Kupercepat langkah menuju jantung kota kecilku sekaligus menceburkan diri ke dalam malam. Berjalan diatas trotoar menenggelamkan ke ruang – ruang lengang melenakan.

Kuingat obrolan tadi siang dipasar dikala duduk menanti pembeli. Pendidikan dan ekonomi rendah, membuat perempuan rela melakukan apa saja termasuk “rental body”, Mereka satu dari ribuan skenario yang terjadi.

“udah biasa kok kayak gitu, banyak kejadian nya” ujar aan pada suatu ketika
“Kasian, masih sekolah udah bunting duluan, mau dikasih makan apa anak nya nanti “?
“Entahlah, itu resiko mereka, mikir cuma enak nya doank”?
Perbincangan berakhir tanpa kata sepakat untuk mengakhiri, hari – hari  yang kami hadapi sudah cukup membuat kami sibuk berfikir untuk menyambung hidup, memang akhir – akhir ini pasar sepi dari pembeli.

Jalan negara penghubung kota sangat lengang, hanya bebrapa kendaraan yang melintas, keseberang warung yang masih buka tujuan ku hanya membeli rokok, setelah itu sudah. Entah sampai kapan kebiasaan ini akan berlangsung, aku ingin berhenti.

Malam semakin luruh, kesunyian semakin terasa, sebentar lagi pagi datang. Sungguh apa yang terjadi disini tempat bumi kupijak, adat istiadat yang sedang ku pahami penuh dengan tragedi – tragedi bagai api dalam sekam. Permukaan terlihat biasa dan normal tanpa gejolak, namun didalam penuh dengan permasalahan – permasalah pelik siap meledak kapan saja.

Mencari kenikmatan duniawi cinta satu malam, bukanlah hal sulit, bahkan teramat mudah. Kemolekan perempuan disini memang bukan isapan jempol semata. Problematika hidup dan permasalahan klasik alasan utama melakukan apa yang tidak mereka inginkan.

Tiba – tiba rindu menyeruak datang aku ingat istriku dirumah, ku percepat langkah untuk pulang, rumah petak tempat ku bernaung serasa begitu jauh …..

Jawa Barat 14 Oktober

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s