cerita diawal oktober

Tulisan ini mungkin sudah basi dan bisa jadi ibarat pacar tertinggal kereta. Meskipun demikian lebih baik tertinggal daripada tidak sama sekali. Akibat dari kebiasaan buruk yang selalu menunda – nunda, dan hasil nya seperti ini :mrgreen:

Ketika Sore datang …

Beberapa jam lagi azan magrib dikumandangkan

Disebuah lapangan, bekas puluhan lapak kios terbakar. Dibawah naungan langit sekawanan walet terbang berputar – putar tanpa tujuan, kemudian hilang di ujung barat laksana kumpulan lebah berpindah tempat.

Sementara dibawahnya, diantara bekas puing – puing kebakaran bocah- bocah, remaja tanggung dan juga para dewasa yang gamang tentang esok hari, sibuk menarik, mengulur benang layang – layang.

Terbanglah setinggi – tingginya meskipun nanti putus dan dihembus terombang ambing oleh angin. Memang layang – layang dinaikkan untuk diputuskan, sudah lumrah terjadi, jika vonis putus takkan dikejar lagi

Dulu dikampung, saat usiaku serupa bocah dilapangan bekas terbakar, aku mesti bersusah payah kesawah untuk melepaskan layang – layang, bukan untuk diadu, terlalu berharga layang dinaikkan susah payah demi untuk diadu.

Menjadi petaka jika putus, aku berlari melintasi kampung agar layangan tak jatuh ketangan orang lain. Dan kebiasaan jatuhnya tersangkut diatas pohon tinggi ditengah rimba, atau diatas atap rumah penduduk.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s